Korea Utara kembali diselimuti kabar duka. Salah satu tokoh paling berpengaruh dan paling dekat dengan Pemimpin Tertinggi Kim Jong Un, Kim Chang Son, dilaporkan meninggal dunia. Kepergiannya bukan hanya menjadi kehilangan bagi jajaran elite Partai Buruh Korea, tetapi juga menandai berakhirnya satu era penting dalam dinamika kekuasaan dan diplomasi Korea Utara di mata dunia.
Kim Chang Son bukan pejabat biasa. Selama puluhan tahun, ia dikenal sebagai sosok yang memegang peranan strategis di lingkaran dalam kekuasaan Pyongyang. Ia menjabat sebagai kepala protokol sekaligus asisten utama Kim Jong Un, posisi yang menjadikannya figur kunci dalam hampir setiap agenda kenegaraan sang pemimpin.
Belasungkawa Langsung dari Kim Jong Un
Media pemerintah Korea Utara menyampaikan bahwa Kim Jong Un mengungkapkan belasungkawa yang “mendalam” atas wafatnya Kim Chang Son. Sang pemimpin bahkan mengirimkan karangan bunga ke tempat persemayaman almarhum sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Meski demikian, otoritas Korea Utara tidak merinci penyebab kematian tokoh senior tersebut. Keheningan ini justru semakin menegaskan betapa penting dan sensitifnya posisi yang selama ini ia pegang.
Sosok di Balik Layar Diplomasi Dunia
Nama Kim Chang Son mulai dikenal luas di dunia internasional saat Korea Utara memasuki fase diplomasi intensif pada 2018–2019. Di masa itu, ia sering terlihat mendampingi Kim Jong Un dalam berbagai pertemuan puncak dan kunjungan luar negeri.
Ia adalah orang yang datang lebih dulu ke lokasi pertemuan penting untuk memastikan rute perjalanan, pengamanan, hingga detail protokol berjalan sempurna. Perannya sangat krusial dalam mempersiapkan pertemuan bersejarah antara Kim Jong Un dengan Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, di Singapura dan Vietnam.
Tak hanya itu, ia juga terlibat langsung dalam persiapan pertemuan antar-Korea dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae In, termasuk dalam urusan protokol, keamanan, dan pengaturan media.
Loyal Sejak Era Kim Jong Il
Kesetiaan Kim Chang Son tidak hanya ditujukan kepada Kim Jong Un. Ia sudah lama menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan keluarga Kim sejak era Kim Jong Il. Di masa itu, ia bekerja di sekretariat yang menangani berbagai urusan penting pemimpin dan keluarga inti.
Pengalaman panjang ini membuatnya dipercaya penuh oleh rezim dan menjadi salah satu figur yang paling memahami dinamika internal kekuasaan Korea Utara.
Lebih dari Sekadar Kepala Protokol
Di mata dunia, Kim Chang Son sering dijuluki sebagai “kepala staf de facto” Kim Jong Un. Ia bukan hanya mengatur jadwal dan protokol, tetapi juga menjadi penghubung utama antara pemimpin Korea Utara dengan dunia luar.
Media pemerintah bahkan menggambarkannya sebagai sosok yang memberikan kontribusi besar dalam menjaga martabat partai dan meningkatkan citra negara di tingkat internasional melalui kerja yang jujur dan dedikasi tinggi.
Berakhirnya Satu Era di Lingkaran Elite Pyongyang
Wafatnya Kim Chang Son menandai berakhirnya satu era penting dalam sejarah kepemimpinan Korea Utara modern. Sosok yang selama ini menjadi “arsitek di balik layar” diplomasi Pyongyang kini telah tiada.
Meski struktur kekuasaan Korea Utara dikenal solid, kepergian figur senior dengan pengalaman dan jaringan luas seperti Kim Chang Son tetap menjadi kehilangan besar. Dunia kini menanti siapa yang akan mengisi posisi strategis tersebut dan bagaimana hal itu akan memengaruhi arah diplomasi se